BREAKING NEWS

10/recent/ticker-posts

Right Button

test bannerSELAMAT DATANG DI WEBSITE "INFORMASI KILAS NUSANTARA"

Polantas Menyapa Ubah Persepsi Warga, Agung Tribawanto dan Nanin Aprilia Fitriani Hadirkan Polisi yang Bersahabat

 

PASAMAN BARAT | Suasana berbeda kini terasa di sejumlah ruas jalan Kabupaten Pasaman Barat. Kehadiran polisi lalu lintas yang biasanya identik dengan penindakan, perlahan berubah menjadi interaksi yang lebih hangat dan penuh pendekatan humanis.

Program Polantas Menyapa yang digagas oleh jajaran Satuan Lalu Lintas Polres Pasaman Barat menghadirkan wajah baru pelayanan kepolisian di tengah masyarakat. Sapaan ramah menggantikan kesan kaku yang selama ini melekat.

Kapolres Pasaman Barat, AKBP Agung Tribawanto, membawa paradigma baru bahwa ketertiban berlalu lintas tidak bisa hanya ditegakkan melalui aturan, tetapi harus tumbuh dari kesadaran masyarakat itu sendiri.

Pendekatan tersebut diperkuat oleh Kasat Lantas, AKP Nanin Aprilia Fitriani, yang menekankan pentingnya membangun kedekatan emosional antara polisi dan masyarakat sebagai fondasi utama edukasi.

Di lapangan, personel Polantas tak sekadar berdiri mengawasi arus kendaraan. Mereka aktif menyapa pengendara roda dua, roda empat, bahkan pejalan kaki dengan bahasa yang santai dan mudah dipahami.

Setiap sapaan disertai pesan keselamatan yang sederhana namun bermakna. Penggunaan helm, kelengkapan surat kendaraan, hingga etika berkendara disampaikan tanpa tekanan.

Interaksi ini menciptakan suasana baru di jalan raya. Senyum pengendara yang dibalas dengan keramahan petugas menjadi pemandangan yang kini semakin sering terlihat.

Perubahan pendekatan ini secara perlahan menggeser persepsi masyarakat terhadap polisi lalu lintas. Kehadiran mereka tidak lagi dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai pengingat keselamatan.

Dampak nyata mulai terlihat selama pelaksanaan Operasi Ketupat Singgalang 2026. Angka kecelakaan lalu lintas di Pasaman Barat mengalami penurunan yang cukup signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.

Data mencatat delapan kasus kecelakaan terjadi, dengan rincian empat korban luka berat dan 13 luka ringan, tanpa adanya korban jiwa. Kerugian material pun relatif lebih kecil.

Capaian tersebut menjadi indikator bahwa pendekatan edukatif yang menyentuh kesadaran masyarakat memiliki pengaruh besar dalam menekan risiko kecelakaan.

Selama momentum Ramadan hingga Idulfitri, pelayanan terus ditingkatkan. Polantas hadir bukan hanya untuk mengatur lalu lintas, tetapi juga memastikan masyarakat merasa aman dan nyaman saat mudik maupun arus balik.

Dialog yang terbangun di jalan raya kini tidak lagi sebatas soal pelanggaran. Lebih dari itu, terdapat pesan kepedulian yang disampaikan secara langsung kepada masyarakat.

Kesadaran mulai tumbuh bahwa tertib berlalu lintas bukan hanya kewajiban hukum, melainkan kebutuhan bersama untuk melindungi diri sendiri dan orang lain.

Program Polantas Menyapa menjadi simbol perubahan pendekatan kepolisian yang lebih humanis, menyentuh hati masyarakat, dan membangun kepercayaan publik.

Di ruang publik yang paling sering bersentuhan dengan aktivitas masyarakat—jalan raya—hadir cara baru yang lebih hangat dalam menjaga keselamatan bersama.

Catatan Redaksi:

Pendekatan humanis yang dilakukan menunjukkan bahwa keberhasilan keselamatan berlalu lintas tidak semata bergantung pada penindakan, melainkan pada kesadaran kolektif. Diharapkan masyarakat menjadikan tertib berlalu lintas sebagai budaya, bukan karena kehadiran petugas, tetapi karena memahami nilai keselamatan itu sendiri.

(TIM)

Posting Komentar

0 Komentar